Besi menajamkan besi

“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. Apa yang tidak kita sukai dari sesama dapat dipakai Tuhan untuk menajamkan karakter kita.”

Kalimat itu menjadi rangkaian teguran Tuhan ke gue, karena gue terlalu keras hati untuk berubah.

Sebelum gue tulis ini, gue berdoa semoga apa yang gue tulis ga menghakimi orang lain, tapi gue cuma berbagi sedikit proses yang harus gue jalani bersama Tuhan.

Proses itu dimulai hampir setahun yang lalu. Ada seseorang yang gue sebel banget, udah beberapa kali dia buat masalah, meskipun ga langsung ke gue, tapi ke beberapa teman di komunitas gue. Jadi gue banyak banget dapat curhatan tentang kelakuan minus orang ini. Tapi karena dia ga pernah secara langsung “mengganggu” gue, gue masih biasa aja sama dia, karena as personal gue memang tidak ada masalah pribadi dengan dia. Sampai pada suatu hari dia melakukan sesuatu yang membuat gue marah, langsung ke gue. Dan menurut gue itu udah kelewatan, lo dimarahin untuk sesuatu yang bukan kesalahan lo dan jelas-jelas dia yang salah. Ditambah dengan bumbu sikap dan kata-katanya yang bikin spaning gue naik. Sumpah sebel bener gue ama orang itu, apalagi kelakuannya yang engga sinkron sama kata-katanya. Sejak itu gue ga pernah nyapa, ga pernah ngobrol, ga pernah berinteraksi langsung sama dia. Gue memang orang yang gampang emosian (ini salah satu sisi buruk gue), tapi kalo gue marah ya gue keluarin, tapi bentar lagi juga baik lagi, cuma emosi sesaat aja hehehe. Tapi gue bukan tipe yang pendendam, kecuali, ada sesuatu yang orang lakukan dan menurut gue kelewatan, contohnya orang yang gue sebutkan tadi. Dan kalo udah kayak gitu, gue susah banget maafin orang tersebut, ini sifat buruk yang lain.

Kakak rohani gue udah sering mengingatkan untuk mengampuni orang tersebut, karena gue sendiri belum tentu lebih baik dari dia (gue sadar kalo itu bener, gue emang ga lebih baik dari dia). Tapi gue tetap dengan kekerasan hati gue, ga mau maafin dia. Tapi sejak kejadian itu banyak banget teguran dari Tuhan buat gue. Tuhan masih sayang sama gue, Dia ga mau gue terus-terusan memelihara dosa. Mulai dari buku yang gue baca tentang biografi Yusuf, bagaimana Yusuf mengampuni saudara-saudara yang sudah membuang dia. Lha masalah gue ini ga ada apa-apanya dibanding Yusuf. Dari beberapa khotbah yang mengingatkan gue untuk mengampuni orang lain karena, Tuhan Yesus sudah terlebih dahulu mengampuni kita orang berdosa. Dari bahan saat teduh gue, dari khotbah KPR di gereja, melalui kakak rohani gue dan banyak hal lainnya. Tuhan udah menegur gue, mulai dari yang paling halus, agak sedikit keras, keras, sampai teriak kali ya saking keras hatinya gue.

Tapi kalimat sederhana diatas tuh jadi kayak “tamparan” buat gue. Kalau apa yang kita tidak sukai dari sesama itu dipakai Tuhan untuk menajamkan karakter kita, tinggal tergantung kita mau ditajamkan atau tidak. Kekurangan orang tersebut (yang gue ga akan cerita semua, karena nanti gue malah jadi menghakimi dia) dipakai Tuhan untuk memperbaiki kelemahan gue yang cepet marah dan susah untuk mengampuni. Gue bisa milih untuk tetep keras hati, menyimpan kemarahan sama orang itu, yang mungkin orang itu mah bisa haha hihi seenaknya tanpa merasa dia pernah melakukan kesalahan, atau gue memilih untuk mengampuni supaya sukacita itu tetap ada. Sepanjang hampir setahun gue memilih pilihan pertama. Tapi sejak gue baca kalimat diatas, gue sadar, kalo gue harus belajar untuk memilih pilihan yang kedua. Tidak mudah pastinya dan tidak bisa langsung, tapi kalo Yusuf yang disakitin parah gitu aja bisa, masa gue yang cuma segini ga mau dibentuk Tuhan.

Temans, mungkin kita punya kepahitan sama orang lain, entah siapa. Tapi kalo mau jujur, kepahitan itu ga ada untungnya buat kita, kita yang akan kehilangan sukacita, gue sadar akan hal itu, tapi emang dasar gue yang keras hati, makanya gue tidak mau melangkah untuk melepaskan pengampunan. Jangan ditiru ya hehehehe… Oleh karena itu biarkan Tuhan menajamkan karakter kita agar semakin serupa dengan dia. Biarkan semua kelemahan kita di perbaiki agar kita bisa menjadi berkat bagi banyak orang.

Dan satu hal lagi yang gue pelajari dari nulis tulisan ini. Mudah bagi kita untuk menemukan dan melihat kekuranganan orang lain, tapi sulit sekali untuk mengakui kekurangan kita di depan orang lain. Tapi sulit bukan berarti ga bisa, tinggal tergantung kita mau mulai melangkah atau tidak.

Mari melangkah bersama Yesus.
“ Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Blessings

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment